Sunday, 31 May 2015

Coffee Story Kompas TV "Kopi Owa & Kopi Tahlil"#2



Coffee Story perlu disebarluaskan di seluruh muka Bumi, dalam berbagai bahasa mengingat potensi Kopi Papua, secara khusus kopi di Pegunungan Tengah Tanah Papua begitu luarbiasa, tetapi selama ini selalu saja dimanipulasi oleh berbagai tangan kotor yang bertujuan mencari untung sendiri, mengabaikan  kepentingan pembangunan, masyarakat pemilik tanah ulat dan tanaman kopi, dan pemangku kepentingan setempat.



Cerita Kopi sedunia tidak begitu enak disimak, tetapi barangkali Cerita Kopi dari Tanah Papua bisa membawa kabar gembira buat kita semua. Kita butuh para "pencerita kopi" yang gigih dan berpihak kepada para pemilik kopi, bukan hanya kepada pemain kopi dan penikmat kopi.

Penelitian Kopi Organik oleh Aser Kocu di Wamena



Kopi Wamena sudah lama dikenal sebagai "Kopi Organik", tetapi adalah bijak bilamana kleim Kopi Organik dimaksud dibuktikan lewat penelitian secara ilmiah, mengingat penelitian dan penjelasan ilmiah ialah adat masyarakat modern yang patut kita pelajari untuk menjelaskan berbagai realitas dalam kehidupan kita, termasuk realitas Kopi Organik yang ada di Tanah Papua.

Penelitian Kopi Organik oleh Aser Kocu di Wamena



Kopi Wamena sudah lama dikenal sebagai "Kopi Organik", tetapi adalah bijak bilamana kleim Kopi Organik dimaksud dibuktikan lewat penelitian secara ilmiah, mengingat penelitian dan penjelasan ilmiah ialah adat masyarakat modern yang patut kita pelajari untuk menjelaskan berbagai realitas dalam kehidupan kita, termasuk realitas Kopi Organik yang ada di Tanah Papua.

The Wamena Experience!



Menyeduh Kopi Wamena sama dengan menyeduh kopi lainnya dari seluruh muka Bumi. Akan tetapi rasa Kopi Wamena selalu tidak sama dengan rasa kopi lain di seluruh dunia, karena masing-masing Kopi Single Origin memiliki citarasa terseendiri yang unik dan khas.



Semoga presentasi ini membantu kita meracik Kopi Wamena dengan tetap mempertahankan citarasanya sebagaimana adanya.

Kemewahan Kopi Wamena dengan metode French Press



Setiap Kopi memiliki keunikan dan / kekhasan rasa.



Kekhasan citarasa ditentukan oleh berbagai aspek. Salah satunya ialah alat yang digunakan, siapa yang menggunakan, dan bagaimana cara menggunakan alat dalam menyeduh sebuah kopi single Origin seperti Kopi Papua Wamena Single Origin yang selama ini dipromosikan dan diekspor oleh KSU Baliem Arabica.

Thursday, 21 May 2015

"Kenapa Harga Kopi Wamena Begitu Mahal Pak?"

Roasted Beans Kopi Papua
Judul cerita ini adalah pertanyaan yang sudah banyak kali, dan hampir semua orang yang kami tawarkan kopi Wamena katakan.Di awal-awalnya kami sulit menjawab pernyataan berupa keluhan seperti ini. Sering sekali ditulis dalam SMS atau email seperti ini, "Waduh, apa bisa dikurangi dikit Pak?", "Nggal terlalu mahal Pak?", "Apa bisa dikurangi Pak, soalnya saya juga mau jualan", dan sejenisnya. Nada-nada kalimat seperti ini dengan jelas memaksa kami sebagai penjual Kopi Wamena menurunkan harga.

Kami selalu menjawab, "Mohon maaf, sesuai keputusan Rapat Koperasi, kami jalankan perintah rapat, bukan keputusan pribadi, jadi tidak bisa merubah harga kopi". Untung saja harga kopi turut kami tetapkan dalam Rapat Anggota Koperasi.

Sudah berselang 3 tahun sekarang, dan pernyataan itu selalu saja datang. Jawaban kami saat ini kepada seluruh penikmat dan pembeli kopi di Indonesia sebagai berikut:

Barangsiapa punya harga diri atas tanah air dan bangsanya, dia pasti akan menghargai 'harga' Kopi Papua

Lewat pernyataan yang kami sampaikan pada "Signature" surat-surat yang dikeluarkan Marketing Manager KSU Baliem Arabica bermaksud menjelaskan bahwa Harga Kopi Papua bukan harus diterima karena biaya produksi begitu mahal saja, tetapi kita semua harus menghargai 'harga kopi Papua' sebagaimana adanya:
  1. Mengeluhkan harga kopi Papua sama saja dengan mengeluhkan nasib diri sendiri, di mana Wamena ada di dalam wilayah NKRI yang kondisinya serba mahal, yang menyebabkan Kopinya memang harus mahal. Maka untuk menerima fakta geografis ini secara mutlak, kita semua yang berdagang Kopi Kopi Wamena maupun yang menikmatinya seharusnya "menghargai"nya bukan mengeluhkannya.
  2. Kalau kita di Indonesia saja sudah muncul dengan keluhan apa yang kita maksudkan kepada konsumen di Amerika Serikat? Tidak tahukan wahai penikmat dan pedagang Kopi di Indonesia bahwa pedagang dan penikmat Kopi di Amerika Serikat dan di Eropa justru 'menghargai' harga Kopi Wamena dan mereka tidak pernah, sekali lagi tidak pernah sekalipun katakan, "Kopi Wamena Mahal!"?
  3. Kalua orang asing saja berani menghargai Kopi Wamena dengan harganya, apa bukti kita yang mengaku diri sebagai orang Indonesia, sebagai pemain kopi Indonesia, sebagia penikmat Kopi Indonesia? Apakah mengeluhkan harga kopi Wamena bukti nasionalisme kita? atau sebaliknya?
Semoga saja, dengan publikasi seperti ini dan dengan kesadaran kita semua, kita pada akhirnya harus tunduk kepada fakta mutlak di Indoensia bahwa memang ada harga kopi yang harus kami pertimbangkan, ada yang harus kami teruma, dan ada pula harga kopi yang harus kami hargai (appreciate).

Roasted Beans Kopi Indonesia

Sunday, 17 May 2015

Jhon Kwano: Banyak Orang Berharap Kopi Papua Murah, tetapi Faktanya Kami Tidak Sanggup Memurahkan Harga

Menanggapi pertanyana yang diajukan oleh salah satu konsumen kami yang menyatakan kopi Papua terlalu mahal baginya, maka saya, Jhon Kwano sebagai petugas marketing dari produk Kopi Papua dari KSU Baliem Arabica merasa berkewajiban menyampaikan informasi sekaligus sebagai penegasan bahwa harga Kopi Papua merupakan yang termahal di seluruh Indonesia, bahkan bisa jadi di seluruh dunia. "Alasan utama jelas karena biaya produksi begitu mahal," kata Kwano.

Menurut Kwano lagi,
"Kita bandingkan saja, Kopi Papua ini mulai dari kebun saja sudah harus diangkut dengan pesawat. Belum kita bicara tentang pengolahannya, pengeringannya dan pengiriman ke Jayapura. Dari Jayapura-pun kami harus membayar biaya pengangkutan ke dan dari Gudang Produksi di Kampung Harapan, Sentani, Jayapura."
Masih menurut Kwano bahwa sebenarnya KSU Baliem Arabica tidak bermental pengemis.
Kami tidak terlalu mengharapkan Pemerintah berbaik hati atau menghinabobohkan perusahaan kami, tetapi adalah kewajiban pemerintah. Sekali lagi, ini kewajiban pemerintah Indonesia, bukan hanya pemerintah provinsi Papua, untuk memperhatikan, mendorong dan menopang usaha-usaha kreatif dan usaha-usaha kecil di seluruh Indonesia. Jadi yang kami lakukan di sini adalah usaha kecil, karena kami berbentuk Koperasi.

Kalau saja pemerintah dari pusat sampai daerah memberikan fasilitas seperti subsidi biaya angkut, atau fasilitas lainya, pasti sekali harga kopi bisa turun. Tetapi itu hanya harapan, yang kami tahu akan sulit dipenuhi kalau kami bermental berharap pemerintah turun tangan.

Pasar di Indonesia harus sadar bahwa harga Kopi Papua sebegitu mahal dan kita sebagai pelaku usaha, konsumen kopi yang merasa diri mau memajukan negara Indoensia harusnya tidak perlu mengeluh. 

Pembeli kopi Papua dari Amerika Serikat dan Eropa saja tidak pernah kaget-kagetan lihat harga Kopi Papua. Mereka tahu persis kondisi geografis dna kondisi pembangunan di Tanah Papua sehingga mereka 'appreciative' terhadap harga yang kami pasang. Bedanya konsumen dan pemain kopi di Indonesia justru mengharapkan kopi Papua berharga sama dengan Kopi Jawa, padahal biaya produksinya sangat berberda. 
Selanjutnya Jhon Kwnao mengundang seluruh pengusaha, pedagang dan penikmat Kopi di Indonesia pada umumnya dan pemerhati Kopi Papua, terutama sekali orang Papua yang suka minum kopi untuk "appreciate the price as it is bearing in mind that the geographical and development conditions do contribute significantly to the cost".

Dengan semangat Revolusi Bisnis Kopi di Tanah Papua yang sedang digallakkan saat ini, Jhon Kwano mengundang semua pihak, terutama pemain kopi di Indonesia untuk menghargai harga kopi yang telah dipasang KSU Baliem Arabica.