Saturday, 14 November 2015

Ada Kebijakan Aneh oleh Pemda di Pegunungan Tengah: Nasib Kopi Wamena bagaimana?

Judul pesan WhatsApp berbunyi "Ada Kebijakan Aneh oleh Pemda di Pegunungan Tengah: Nasib Kopi Wamena bagaimana?" datang ke Redaksi PAPUA.business News. Kebijakan itu bunyi seperti begini, "Bupati perintahkan, mulai Akhir Tahun Anggaran ini sampai tahun-tahun anggaran mendatang, Pemda .... memfokuskan diri kepada pengembangan Ubi Jalar dan ...., Ini program unggulan kabupaten ...., tidak ada petani kerja yang lain....

Wamena memang sejak dulu dikenal sebagai Kota Umbi-Umbian dan sayur-mayur, posisinya tak tergantikan oleh kabupaten mana saja di Tanah Papua. Akan tetapi sejak tahun 2009, Wamena juga telah dijuluki sebagai Kota Penghasil Kopi terbesar di Tanah Papua. Akan tetapi riwayat dan cerita manis itu mengalami ancaman.

Menurut Ketua Koperasi Baliem Arabica, Ev. Selion Karoba, S.Th., sebenarnya ini bukan ancaman, tetapi ialah tantangan. Perubahan kebijakan Pemda... ini menandakan sebuah sebuah era baru dalam sejarah bisnis Kopi Papua, secara khusus Kopi Baliem Arabica, atau Kopi Wamena, atau Kopi Papua Baliem. Tantangan itu yang harus kita sambut dan tindak-lanjuti dengan kebijakan-kebijakan bisnis yang berpihak kepada Petani Kopi.

Para petani kopi-pun berdatangan ke Kantor KSU Baliem Arabica memintakan penjelasan apa yang bakalan terjadi dengan kebijakan yang diumumkan secara terbuka di publik oleh salah satu Bupati di Pegunungan Tengah Papua ini. Akan tetapi kebijakan ini diterima oleh KSU Bailem Arabica sebagai sebuah peluang.

Menurut Jhon Yonathan Kwano dari PAPUA.business News,
Peluang selalu datang, dan dia tidak pernah singgah, tetapi dia biasanya langsung lewat. Peluang-peluang itu tidak pernah datang ulang, tidak ada ulangan peluang. Ia datang, dan pergi, dan pergi terus. Yang datang dari belakang, ialah peluang baru, peluang yang lain, peluang yang berbeda. Apa yang sedang terjadi di pegunungan tengah Papua saat ini ialah peluang. Tergantung para pengusaha kopi lokal di Tanah Papua, khususnya di Pegunungan Tengah menyikapinya. Menganggapnya masalah atau peluang? Kalau kita sambut ini sebagai peluang, maka saya dengan jelas melihatnya sebagai sebuah kebijakan yang menguntungkan KSU Baliem Arabica.
Oleh karena itu, apapun yang terjadi, kita sudah terlanjur dilahirkan, kita sudah terlanjur menjadi pengusaha Kopi Papua, kita tetap terus berpacu, entah apapun yang terjadi, melihat semua masalah sebagai peluang untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya, bagi kepentingan kemakmuran para anggota Kopi di pelosok, kampung dan hutan di seluruh Tanah Papua.

No comments:

Post a Comment