Sunday, 25 October 2015

Yang Logis Pemerintah Provinsi Papua Memupuk dan Menyirami Bisnis Kopi yang Sudah Ada

Terkait pernyataan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Papua John Nahumury yang "mengaku saat ini pihaknya telah memperluas areal perkebunan kopi di wilayah Meepago maupun Lapago", ditambah lagi  "akan membangun pabrik Kopi di wilayah Meepago, dan Wamena juga akan diproduksi kopi bubuk untuk di ekspor", Jhon Kwano sebagai Manager Unit Sales & Marketing Koperasi Serba Usaha Baliem Arabica yang sejak tahun 2009 telah mengekspor Kopi Papua sebagai Produk Unggulan Pertama dari Tanah Papua yang diekspor ke pasar internasional menyarankan agar pemerintah provinsi Papua perlu
  • punya fokus yang jelas, dan
  • punya mitra kerja yang sudah berpengalaman dan terbukti membawa nama baik Tanah Papua ke pasar internasional
Jhon Kwano menambahkan,
Kita di Tanah Papua terbelenggu oleh ego-ego yang tidak sehat. Kita dilahirkan dalam kampung-kampung dan pulau-pulau terpisah antara satu dan yang lain. Walaupun kita hidup di satu pulau yang besar, kita dikotak-kotak habis oleh perbedaan suku, bahasa, ditambah lagi perbedaan partai politik dan perbedaan wilayah administrasi pemerintahan. Jadi afiliasi kita kepada suku, wilayah administrasi, partai politik kita bawa naik antero ke dalam posisi dan jabatan kita sehingga kita turunkan kebijakan hanya dengan dasar pengalaman sesempit suku, partai, wilayah administrasi pemerintahan kita, tanpa melihat skope Papua, skope New Guinea, skop Melanesia, skope ASEAN, skope global. 
Akibatnya kita hanya menjadi jago kandang. Sok-sok bisa. Kita berputar dari titik nol ke titik nol, tidak pernah ke titik satu, apalagi titik dua dan tiga. 
Lihat saja kebijakan Gubernur Suebu, Jaap Solossa, dan sebelum mereka, jarang sekali diteruskan oleh gubernur berikutknya. Semuanya dimatikan, semuanya dimulai dari Nol. Belum 5 tahun, semuanya mengalami goncangan-goncangan, terbengkalai, karena masing-masing sibuk urus Pilkada. 
Jadi Tanah dan orang Papua jarang mendapatkan perhatian dan fokus pelayanan yang terpadu, terintegrasi dan berkelanjutan.
Contohnya kita lihat sekarang, Kepala Dinas Perkebunan yang lama sudah mengantar KSU Baliem Arabica sampai ke pasar internasional, kini Kepala Dinas baru malahan melupakan sama sekali karena menganggap keberhasilan yang ada bukan bagian dari dirinya.
Ini konyol, ini yang membuat Papua tidak pernah maju-maju. Papua kelihatan jalan di tempat karena cara-cara kerja pejabat Provinsi sepert Jhon Nahumury.
Dengan merujuk kepada sejumlah pernyataan dan kebijakan yang telah diambil, Jhon Kwano menyarankan kepada Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe supaya membangkitkan perekonomian di Tanah Papua bukan dengan cara memulai dari Nol, tetapi menghargai apa yang telah dibangun para senior kita, dan kita tinggal meneruskan, meningkatkan, menambah, mengurangi dari apa yang sudah ada. Karena kata Kwano,

Para gubernur yang sudah senior tidak mungkin mereka tinggal diam dan tidak mungkin semua program salah. Pasti ada yang berguna, pasti ada yang bermanfaat dalam jangka panjang. Contohnya pembinaan KSU Baliem Arabica sampai menjadi yang pertama mengekspor produk unggulan Tanah Papua merupakan prestasi yang harus dibanggakan dan ditingkatkan, bukan dimatikan, atau diabaikan seolah-olah provinsi Papua tidak pernah mengekspor, dan hanya kita yang bisa mendorong ekspor Kopi Papua.

Masih menurut Kwano,
Para pejabat pemerintah, mulai dari Presiden, Gubernur, apalagi para Kepala Dinas harus sadar sepenuhnya bahwa kekuasaan dan wewenang mereka dibatasi oleh waktu dan ruang. Kami yang bergerak di lapangan sebagai pengusaha tidak diikat oleh waktu dan ruang kebijakan. Kami bebas. Berbeda dengan para pejabat, mereka diikat oleh kontrak politik dan kontrak itu punya masa berlaku. Setelah masa berlaku itu habis, mereka kembali tidak berkuasa dan tidak berwenang apa-apa mengatur di pemerintahan lagi. Kecuali mendapat kesempatan kedua atau ketiga. Jadi pada saat menjabat mereka harus berpikir yang rasional, yang realistis, dan yang dapat dicapai. 
Kwano menilai banyak pejabat negara diberi kesempatan memimpin hanya lima tahun, tetapi mereka punya idealisme untuk 50 tahun. Mereka seharusnya membatasi diri, membatasi idealisme menjadi pragmatis, irasional menjadi rasional, dan menggariskan kebijakan yang bisa dicapai dalam kurun waktu kontrak politik yang ada. Kalau tidak kebijakan dari tahun ke tahun akan selalu dimulai dari Nol, dan Papua tidak akan pernah bangkit, apalagi mandiri, apalagi sejahtera.

Yang Logis Pemerintah Provinsi Papua Memupuk dan Menyirami Bisnis Kopi yang Sudah Ada", kata Kwano menanggapi pernyataan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Papua. Ditambahkan lagi, 
"Kepala Dinas harus baca Memo Gubernur Papua tahun 2013, bulan Desember, menyangkut pengembangan Kopi di Tanah Papua! atau memo itu sudah dianggap basi? Padahal itu Memo dari Gubernur yang ada sekarang, Lukas Enembe.

Kalau Gubernur masih sama, biar Kepala Dinas diganti, programnya seharusnya sama dong. 

No comments:

Post a Comment