Saturday, 14 November 2015

Ada Kebijakan Aneh oleh Pemda di Pegunungan Tengah: Nasib Kopi Wamena bagaimana?

Judul pesan WhatsApp berbunyi "Ada Kebijakan Aneh oleh Pemda di Pegunungan Tengah: Nasib Kopi Wamena bagaimana?" datang ke Redaksi PAPUA.business News. Kebijakan itu bunyi seperti begini, "Bupati perintahkan, mulai Akhir Tahun Anggaran ini sampai tahun-tahun anggaran mendatang, Pemda .... memfokuskan diri kepada pengembangan Ubi Jalar dan ...., Ini program unggulan kabupaten ...., tidak ada petani kerja yang lain....

Wamena memang sejak dulu dikenal sebagai Kota Umbi-Umbian dan sayur-mayur, posisinya tak tergantikan oleh kabupaten mana saja di Tanah Papua. Akan tetapi sejak tahun 2009, Wamena juga telah dijuluki sebagai Kota Penghasil Kopi terbesar di Tanah Papua. Akan tetapi riwayat dan cerita manis itu mengalami ancaman.

Menurut Ketua Koperasi Baliem Arabica, Ev. Selion Karoba, S.Th., sebenarnya ini bukan ancaman, tetapi ialah tantangan. Perubahan kebijakan Pemda... ini menandakan sebuah sebuah era baru dalam sejarah bisnis Kopi Papua, secara khusus Kopi Baliem Arabica, atau Kopi Wamena, atau Kopi Papua Baliem. Tantangan itu yang harus kita sambut dan tindak-lanjuti dengan kebijakan-kebijakan bisnis yang berpihak kepada Petani Kopi.

Para petani kopi-pun berdatangan ke Kantor KSU Baliem Arabica memintakan penjelasan apa yang bakalan terjadi dengan kebijakan yang diumumkan secara terbuka di publik oleh salah satu Bupati di Pegunungan Tengah Papua ini. Akan tetapi kebijakan ini diterima oleh KSU Bailem Arabica sebagai sebuah peluang.

Menurut Jhon Yonathan Kwano dari PAPUA.business News,
Peluang selalu datang, dan dia tidak pernah singgah, tetapi dia biasanya langsung lewat. Peluang-peluang itu tidak pernah datang ulang, tidak ada ulangan peluang. Ia datang, dan pergi, dan pergi terus. Yang datang dari belakang, ialah peluang baru, peluang yang lain, peluang yang berbeda. Apa yang sedang terjadi di pegunungan tengah Papua saat ini ialah peluang. Tergantung para pengusaha kopi lokal di Tanah Papua, khususnya di Pegunungan Tengah menyikapinya. Menganggapnya masalah atau peluang? Kalau kita sambut ini sebagai peluang, maka saya dengan jelas melihatnya sebagai sebuah kebijakan yang menguntungkan KSU Baliem Arabica.
Oleh karena itu, apapun yang terjadi, kita sudah terlanjur dilahirkan, kita sudah terlanjur menjadi pengusaha Kopi Papua, kita tetap terus berpacu, entah apapun yang terjadi, melihat semua masalah sebagai peluang untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya, bagi kepentingan kemakmuran para anggota Kopi di pelosok, kampung dan hutan di seluruh Tanah Papua.

Wednesday, 11 November 2015

Suka Minum Kopi Buatan Negeri? Kamu Akan Rasakan Kebaikan Ini

Bagi kamu yang suka minum kopi dari biji-biji kopi yang di tanam di negeri sendiri dan bukannya hasil impor dari manca negara maka kamu akan menemukan beberapa kebaikan dari setiap seruputan kopi hitam pahit racikan sendiri.

Perlu kamu ketahui, kopi asal Indonesia adalah varietas yang memiliki kualitas unggul di mata dunia. Nilai jual yang sangat tinggi menjadikan kopi sebagai salah satu ‘pahlawan’ devisa bagi Indonesia. Betapa berharga biji kopi dari negeri kita di mata global.

Orang luar sering menyebut secangkir kopi dengan ‘a cup of java’, istilah yang digunakan untuk menyebutkan secangkir kopi dari biji-biji kopi Indonesia. Java adalah sebutan yang digunakan oleh bangsa Eropa untuk pulau Jawa di Indonesia.

Sejak abad 17, kopi sudah menjadi salah satu produk ekspor yang menjadi andalan bagi Indonesia. Mayoritas kopi yang dikonsumsi oleh warga dunia adalah kopi dari Indonesia sehingga Eropa mengasosiasikan kata kopi dengan ‘Java’, kamu pernah denger? Sedikit terdengar asing di telinga warga Indonesia memang.

Dan entah memang sistem di negara kita bagaimana, mimin juga kurang paham namun produk-produk yang diekspor ke luar negeri lebih diutamakan segi kualitas dan pemasarannya sedangkan di dalam negeri terlihat seperti dinomorduakan. Hal ini terlihat dari apresiasi orang Indonesia terhadap kopi yang menjadi primadona global.

Maka jika kamu mulai mencoba untuk menyeruput kopi hitam dari negerimu kamu akan merasakan kebaikan-kebaikan seperti di bawah ini.

Kenapa Memilih kopi instan jika kopi dari negeri sendiri saja banyak jenisnya yang tak akan habis kamu coba satu persatu.

Walau Indonesia menjadi negara terbesar ketiga dalam skala produksi kopi, namun untuk skala keberagaman varietas kita adalah nomor satu. Hal ini dipengaruhi oleh relief geografis Indonesia yang berbeda-beda. Ada 5 jenis kopi yang menjadi unggulan di dunia dan kelimanya dari Indonesia, boleh tepuk tangannya?


Lima kopi unggulan itu antara lain…

Kopi Aceh Gayo, yang ditandai dengan aroma herbal dan rasanya yang kuat, jika kamu belum terbiasa akan tercium aroma tanah dan rasa asam yang menyertai, tapi disertai rasa-rasa itu ketika diminum terasa lembut di mulut.

Kopi Sumatera Mandailing identik dengan sensasi rasa buah-buahan, pedas merica, dan terdapat sedikit rasa cokelat dan tingkat keasaman yang ringan.

Kopi Toraja Kalosi memiliki aroma herbal, sensasi rasa cokelat, karamel dan tingkat keasaman serta kepekatan yang sedang.

Kopi Kintamani Bali memiliki rasa unik dari sentuhan jeruk alami dengan keasaman yang ringan.
Kopi Papua Wamena memiliki sensasi rasa buah-buahan dengan tingkat kepekatan yang sedang dan pahit yang ringan.
Sedangkan kopi instan diproduksi secara massal, tanpa proses pemilihan yang intensif lalu kopi murni yang dicampurkan juga hanya 1-3% di tiap kemasan. Sensasi rasa buah-buahan ataupun sensasi rasa cokelat atau tanah yang dihasilkan kopi-kopi dari Indonesia tidak akan kamu temukan dari kopi instan.

 Seduh kopimu sendiri agar kamu dapat merasakan nikmatnya minum kopi
Sekali-sekali cobalah minum kopi tubruk yang memiliki ampas. Ampas juga banyak macamnya, ada yang halus dan ada yang kasar, apabila tempat kamu minum kopi adalah kafe yang menyediakan kertas saring juga boleh menjadi alternatif ketika sensasi ampas tidak ingin menyentuh mulutmu. Jangan hanya orang bule saja yang bisa menikmati enaknya kopi kualitas dunia dari Indonesia, kita sebagai warga asli juga patutnya mengapresiasi nikmatnya minum kopi. Hidup kopi Indonesia!!

Rasakan manfaat baik dari secangkir kopi murni yang kamu seduh sendiri tadi
Secangkir kopi murni memberikan dampak baik bagi kesehatan tubuh apabila dikonsumsi dengan kadar tertentu dan secara teratur. Kopi dikenal memiliki efek antioksidan yang tinggi. Antioksidan yang baik tersebut terdapat di dalam elemen Clorogenic Acids atau CGAs yang diyakini ampuh menurunkan resiko diabetes tipe II. Seorang peminum kopi memiliki kecenderungan lebih rendah untuk terserang penyakit ini sekitar 23-50%. Sedangkan kopi instan yang dicampur dengan bahan tambahan dan dalam komposisi yang berlebihan akan memperlemah CGAs tersebut sekitar 23-29%.

Sedangkan penggunaan krimer dan gula juga dapat memberikan dampak yang buruk seperti menimbunnya lemah jenuh di dalam tubuh yang memicu penyakit diabetes tipe II semakin mudah menyerang.

Dengan mengurangi konsumsi kopi instan dan mulai memilih kopi Indonesia sebagai teman nongkrong adalah salah satu kamu menghargai kekayaan bangsa

Kamu tahu, kopi luwak disebut-sebut sebagai kopi termahal di dunia. Kamu pasti belum pernah mendengarnya, mengenal negerimu sendiri adalah hal yang patutnya kamu ketahui terlebih dahulu. Jangan-jangan kamu tidak tahu kalau kopi Indonesia menjadi favorit dunia, setelah Oprah Winfrey dan Jack Nicholson mempromosikannya di Hollywood barulah kamu sibuk mencarinya di Google.

Apresiasilah produk dalam negeri, dimulai dari kita sendiri.

Sumber Artikel: http://www.jelasberita.com/2015/11/11/kopi-indonesi-memiliki-kebaikan/

Kepala Balitbangtan : Indonesia Penghasil Kopi Khas Terbanyak di Dunia

Kopi Indonesia selain memiliki jenis yang sangat banyak di dunia juga sulit ditiru negara lain


Rabu, 11 November 2015


Petani memanen biji kopi. (Foto: Antara) Petani memanen biji kopi. (Foto: Antara)
JAKARTA, JITUNEWS.COM – Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Beragam jenis kopi ada di tanah air kita tercinta ini.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Muhammad Syakir mengatakan, Indonesia merupakan penghasil kopi khas terbanyak di dunia.

"Keunggulan kopi kami itu adalah kopi specialty," ujar Syakir di acara Festival Kampung Kopi dan Kakao 2015 di Plaza Selatan Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Syakir menyebutkan, di antara nama kopi khas Indonesia yang telah terkenal di mancanegara dan menjadi menu spesial di kafe-kafe besar dunia yaitu Gayo, Mandheling, Java, dan Toraja.

Selain itu, lanjut Syakir, sejumlah kopi khas Indonesia kini mulai dikenal di dunia seperti kopi Bali Kintamani, Flores, Preanger, dan Papua.

Syakir menambahkan, kopi Indonesia selain memiliki jenis yang sangat banyak di dunia juga sulit ditiru negara lain meski dengan pengembangan varietas yang sama.

Kopi spesial itu bisa berkembang di Indonesia lantaran didukung faktor gen, ekosistem, dan iklim di negeri ini.

"Ini merupakan keistimewaan tersendiri," tukas Syakir seraya tersenyum.

Penulis : -
Editor : Riana


@jitunews http://www.jitunews.com/read/25098/kepala-balitbangtan-indonesia-penghasil-kopi-khas-terbanyak-di-dunia#ixzz3rVjSRw5i

Friday, 6 November 2015

Kopi Wamena dan Kopi Baliem, Kopi Bailem Arabica dan Baliem Blue Coffee

Banyak calon pembeli dan bahkan pelanggan lama masih bertanya "Apakah kopi Wamena itu sama dengan Kopi Baliem?" Atau "Apa baliem sama dengan Wamena?". Demikian disampaikan KSU Baliem Arabica lewat PAPUAmart.com sebagai Unit Sales & Marketing. Katanya PAPUAmart.com sering menjawab "Ya, dua-duanya dimaksudkan satu kopi yang sama!" Setelah dijawab juga sering mendapatkan tanggapan seperti ini, "Oh, jadi Baliem itu sama dengan Wamena ya?" yang artinya banyak orang tidak paham bahwa "Baliem" itu nama yang lebih asli dari Wamena, sama dengan dulu nama Irian Jaya dan Papua, di mana orang Papua menganggap nama Papua lebih asli dari pada nama Irian Jaya.

Dalam bahasa daerah di pegunungan tengah, untuk merujuk kepada orang dari Lembah Baliem biasanya disebut "Mbadlima mendek" yang artinya orang Baliem. Jarang dan aneh kalau di antara orang gunung sendiri menyebut seseorang itu "Orang Wamena". "Kami sendiri tinggal memanggil diri kami orang Wamena, tetapi kami orang Baliem", kate Ketua Koperasi Baliem Arabica, Selion Karoba. Menurutnya, nama Wamena itu ialah nama ibukota Kabupaten yang wilayahnya hanya di seputar kota Wamena. Kalau Baliem mencakup keseluruhan Lembah, yaitu sudah dikenal di seluruh dunia sebagai Baliem Valley, atau Lembah Baliem.

Nama Baliem juga terkait langsung dengan Kali Baliem atau Sungai Baliem. Sungai ini mengalir mulai dari Balingga di Puncak Jaya sampai berakhir di Laut, namanya satu saja, yaitu Sungai Baliem. Dan orang-orang yang mendiami sepanjang kali ini, khususnya di wilayah lembah besar atau dalam bahasa Inggris disebut Grand Valley ini disebut Baliem (Baliem Valley).

Menurut para antropolog, bahasa Lani yang digunakan di seluas wilayah Lembah Besar ini disebut bahasa Lani Lembah Besar (Grand Valley Dani) dan bahasa yang digunakan di bagian barat, mulai dari Kelela, Lanny Jaya, Tolikara, Puncak Jaya, dan Ilaga disebut Western Dani. Kata Ketua Koperasi Baliem Arabica, "Ya, kami sendiri tidak menyebut "Dani" tetapi "Lani", karena telah terjadi penamaan yang salah penamaan, yang harus disebut Lani jadinya Dani."

Nama Kopi Baliem terkait dengan nama Koperasi Baliem Arabica, yaitu sebuah Koperasi yang ddidirikan oleh para petani kopi yang berada di sepanjang Kali Baliem, tembus kabupaten, tanpa membedakan wilayah administrasi pemerintahan yang dipetak baru-baru saja. Nama Baliem tidak dibatasi oleh wilayah adminstrasi pemerintahan, karena ia mengikuti jalur perjalanan Sungai Bailem.

Koperasi Bailem Arabica yang didirikan tahun 2007 telah memproduksi Kopi Wamena sejak tahun 2009, dan kini dipasarkan di Jayapura dan wilayah Baliem dengan nama "Baliem Blue Coffee", yaitu kopi kedua atau ketiga yang telah dijuluki sebagai "blue" setelah Jamaica Blue Mountain Coffee, karena bibit dan varietas kopi yang ada di sepanjang Sungai Baliem ialah jenis yang ada di Jamaica sana.

Kami berharap dengan penjelasan in ada pencerahan buat para konsumen dan pengusaha Kopi di seluruh muka Bumi.

Friday, 30 October 2015

Kopi Wamena itu nama lain dari Kopi Papua, paling tidak untuk sementara ini

Ya, begitu yang hendak kami nyatakan kepada penikmat kopi di seluruh dunia, bahwa memang sebelum ada Kopi Wamena, yang bernama Baliem Blue Coffee sudah ada kopi Single Origin lain dari tanah Papua. Menurut pengalaman bagian Distrubusi dan Sales Kopi Papua, Pak Yafet (nama samaran karena yang bersangkutan tidak mau disebutkan namanya),
Pada tahun 1985 saya pernah beli dan minum Kopi ....., itu satu-satunya Kopi asal Tanah Papua, diproduksi di Tanah Papua yang pernah saya lihat, dan saya pernah beli beberapa kali, di tahun 1985. 1086, 1987, 1988, 1989, sampai 1994. Hampir sepuluh tahun lamanya kopi ini dijual di tempat Expo Waena, setiap ada acara expo ada saja Kopi ini. Namanya sudah dikenal orang waktu itu.
 Kopi itu masih ada, tetapi tidak pernah dia berkembang, dia di situ saja.
 Saya baru tahu ada Kopi Wamena hanya setelah tahun 1996, yaitu pada saat kakak saya sendiri yang berada di Wamena, dia datang minta mesin giling kopi manual. Saya tanya dia untuk kopi yang mana, lalu dia bilang di Wamena ada banyak orang sudah tanam, termasuk kaka juga sudah punya tanaman kopi. Kami sudah tahu goreng, tetapi kami tumbuk kopi dengan batu. Hasil tumbukan dengan batu tidak bisa kami jual, jadi mau cari mesin giling.
Baru pada tahun 2009, saat ada export perdana dari Koperasi Serba Usaha Baliem Arabica ke Amerika Serikat, baru saya tahu kalau kopi yang dulunya sang kakak datang minta mesin giling itu nyata-nyata ada dan kini diekspor.

Maklum saja, karena selama lebih dari 20 tahun Pak Yafet tidak pernah ke Wamena, jadi dia masih ingat apa yang pernah ada 20 puluh tahun sebelumnya saja. Perkembangan baru tidak pernah dia tahu.

Dalam siaran tahun 2009 disebutkan yang diekspor ialah Kopi Baliem Arabica. Jadi, bukan Kopi Wamena yang diekspor, dan bukan juga Kopi Papua, tetapi Kopi Baliem Arabica. Yang mengekspornya ialah KSU Baliem Arabica, bukan Dinas Pertanian dan Perkebunan, bukan pemerintah kabupaten lewat dinas apapun. Ekspor inipun tidak dilakukan atas bantuan pemerintah, tetapi murni swadaya masyarakat, yang ditopang oleh USAID-AMARTA.

Pak Yafet lanjut bercerita,
Pada tahun 2014 dan 2015 saya datang ke Festival Danau Sentani, di Kalkhote Sentani baru saya minum Kopi Papua lagi, yang mereka sebut waktu itu sebagai Baliem Blue Coffee, bukan Baliem Arabica, bukan Kopi Papua, bukan Kopi Wamena.
Dari situ saya dapat alamat PAPUAmart.com, yang waktu itu belum didirikan, tetapi dalam alamat itu tertulis akan dibuka.
Nah, pada bulan Oktober ini saya datang dan lihat, ternyata yang dijual itu memang Kopi Wamena, tetapi namanya Baliem Blue Coffee.
Pak Yafet melanjutnya bahwa sebenarnya nama "Kopi Papua" dan "Kopi Wamena" sama saja, lama-lama nanti Kopi Papua akan hilang, yang akan ada ialah Kopi Wamena. Tetapi saya kata Yafet supaya trademark Baliem Blue Coffee tetap dipertahankan oleh KSU Baliem Arabica dan PAPUAmart.com, tetapi lebh memfokuskan diri untuk membranding Kopi Bubuk, bukan green beans-nya.

Kami dari KSU Baliem Arabica dan PAPUAmart.com ikut setuju tentang usulan Pak Yafet, paling tidak untuk sementara ini Kopi Wamena itulah Kopi Papua, dan Kopi Papua ialah Kopi Wamena. Nanti setelah branding Baliem Blue Coffee telah tuntas, maka akan muncul kopi Papua dengan branding yang lain, antara lain. Kami berdoa itu terwujud.



Sunday, 25 October 2015

Yang Logis Pemerintah Provinsi Papua Memupuk dan Menyirami Bisnis Kopi yang Sudah Ada

Terkait pernyataan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Papua John Nahumury yang "mengaku saat ini pihaknya telah memperluas areal perkebunan kopi di wilayah Meepago maupun Lapago", ditambah lagi  "akan membangun pabrik Kopi di wilayah Meepago, dan Wamena juga akan diproduksi kopi bubuk untuk di ekspor", Jhon Kwano sebagai Manager Unit Sales & Marketing Koperasi Serba Usaha Baliem Arabica yang sejak tahun 2009 telah mengekspor Kopi Papua sebagai Produk Unggulan Pertama dari Tanah Papua yang diekspor ke pasar internasional menyarankan agar pemerintah provinsi Papua perlu
  • punya fokus yang jelas, dan
  • punya mitra kerja yang sudah berpengalaman dan terbukti membawa nama baik Tanah Papua ke pasar internasional
Jhon Kwano menambahkan,
Kita di Tanah Papua terbelenggu oleh ego-ego yang tidak sehat. Kita dilahirkan dalam kampung-kampung dan pulau-pulau terpisah antara satu dan yang lain. Walaupun kita hidup di satu pulau yang besar, kita dikotak-kotak habis oleh perbedaan suku, bahasa, ditambah lagi perbedaan partai politik dan perbedaan wilayah administrasi pemerintahan. Jadi afiliasi kita kepada suku, wilayah administrasi, partai politik kita bawa naik antero ke dalam posisi dan jabatan kita sehingga kita turunkan kebijakan hanya dengan dasar pengalaman sesempit suku, partai, wilayah administrasi pemerintahan kita, tanpa melihat skope Papua, skope New Guinea, skop Melanesia, skope ASEAN, skope global. 
Akibatnya kita hanya menjadi jago kandang. Sok-sok bisa. Kita berputar dari titik nol ke titik nol, tidak pernah ke titik satu, apalagi titik dua dan tiga. 
Lihat saja kebijakan Gubernur Suebu, Jaap Solossa, dan sebelum mereka, jarang sekali diteruskan oleh gubernur berikutknya. Semuanya dimatikan, semuanya dimulai dari Nol. Belum 5 tahun, semuanya mengalami goncangan-goncangan, terbengkalai, karena masing-masing sibuk urus Pilkada. 
Jadi Tanah dan orang Papua jarang mendapatkan perhatian dan fokus pelayanan yang terpadu, terintegrasi dan berkelanjutan.
Contohnya kita lihat sekarang, Kepala Dinas Perkebunan yang lama sudah mengantar KSU Baliem Arabica sampai ke pasar internasional, kini Kepala Dinas baru malahan melupakan sama sekali karena menganggap keberhasilan yang ada bukan bagian dari dirinya.
Ini konyol, ini yang membuat Papua tidak pernah maju-maju. Papua kelihatan jalan di tempat karena cara-cara kerja pejabat Provinsi sepert Jhon Nahumury.
Dengan merujuk kepada sejumlah pernyataan dan kebijakan yang telah diambil, Jhon Kwano menyarankan kepada Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe supaya membangkitkan perekonomian di Tanah Papua bukan dengan cara memulai dari Nol, tetapi menghargai apa yang telah dibangun para senior kita, dan kita tinggal meneruskan, meningkatkan, menambah, mengurangi dari apa yang sudah ada. Karena kata Kwano,

Para gubernur yang sudah senior tidak mungkin mereka tinggal diam dan tidak mungkin semua program salah. Pasti ada yang berguna, pasti ada yang bermanfaat dalam jangka panjang. Contohnya pembinaan KSU Baliem Arabica sampai menjadi yang pertama mengekspor produk unggulan Tanah Papua merupakan prestasi yang harus dibanggakan dan ditingkatkan, bukan dimatikan, atau diabaikan seolah-olah provinsi Papua tidak pernah mengekspor, dan hanya kita yang bisa mendorong ekspor Kopi Papua.

Masih menurut Kwano,
Para pejabat pemerintah, mulai dari Presiden, Gubernur, apalagi para Kepala Dinas harus sadar sepenuhnya bahwa kekuasaan dan wewenang mereka dibatasi oleh waktu dan ruang. Kami yang bergerak di lapangan sebagai pengusaha tidak diikat oleh waktu dan ruang kebijakan. Kami bebas. Berbeda dengan para pejabat, mereka diikat oleh kontrak politik dan kontrak itu punya masa berlaku. Setelah masa berlaku itu habis, mereka kembali tidak berkuasa dan tidak berwenang apa-apa mengatur di pemerintahan lagi. Kecuali mendapat kesempatan kedua atau ketiga. Jadi pada saat menjabat mereka harus berpikir yang rasional, yang realistis, dan yang dapat dicapai. 
Kwano menilai banyak pejabat negara diberi kesempatan memimpin hanya lima tahun, tetapi mereka punya idealisme untuk 50 tahun. Mereka seharusnya membatasi diri, membatasi idealisme menjadi pragmatis, irasional menjadi rasional, dan menggariskan kebijakan yang bisa dicapai dalam kurun waktu kontrak politik yang ada. Kalau tidak kebijakan dari tahun ke tahun akan selalu dimulai dari Nol, dan Papua tidak akan pernah bangkit, apalagi mandiri, apalagi sejahtera.

Yang Logis Pemerintah Provinsi Papua Memupuk dan Menyirami Bisnis Kopi yang Sudah Ada", kata Kwano menanggapi pernyataan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Papua. Ditambahkan lagi, 
"Kepala Dinas harus baca Memo Gubernur Papua tahun 2013, bulan Desember, menyangkut pengembangan Kopi di Tanah Papua! atau memo itu sudah dianggap basi? Padahal itu Memo dari Gubernur yang ada sekarang, Lukas Enembe.

Kalau Gubernur masih sama, biar Kepala Dinas diganti, programnya seharusnya sama dong. 

Papua Perluas Areal Perkebunan Kopi

Author : Alexander Loen, October 25, 2015 at 18:45:33 WP, TabloidJubi.com

Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Perkebunan Papua John Nahumury mengaku saat ini pihaknya telah memperluas areal perkebunan kopi di wilayah Meepago maupun Lapago.

Selain memperluas areal perkebunan, Dinas Perkebunan berencana akan membangun pabrik Kopi di wilayah Meepago, dan Wamena juga akan diproduksi kopi bubuk untuk di ekspor. “Untuk memenuhi permintaan kopi, kami perluas areal perkebunan kopi,” kata John Nahumury, di Jayapura, Minggu (25/10/2015). Menurut John, kopi Papua sudah terkenal baik di dalam negeri maupun luar negeri dengan lima cita rasa, sehingga permintaan terus meningkat, namun permintaan tersebut tak bisa terpenuhi lantaran kekurangan bahan baku. “Untuk itu kita lakukan perluasan areal baik di wilayah Meepago maupun Lapago, sehingga konsep tanam, pelihara, pentik dan jual bisa diwujudkan,” ucapnya.

Disamping perluas areal perkebunan dan membangun pabrik, ujar John, pihaknya juga akan melakukan perbaikan di tata niaga dan harga jual kopi. Hal ini dilakukan untuk membangkitkan semangan petani.

“Kami lakukan perluas areal, rehabilitasi, perbaikan tata niaga dan masalah harga, sehingga semangat petani betul-betul termotivasi untuk melakukan usaha upaya peningkatan produksi.

Dengan begitu Papua bisa memenuhi permintaan kopi dari luar,” katanya. Dia menambahkan perluasan areal setiap tahun akan dilakukan, dan untuk tahun ini kurang lebih 500 hektar di wilayah Tolikara, Yalimo, Lanny Jaya, Wamena, Dogiyai dan Paniai sudah dilakukan. Secara terpisah, Fredrik, penjual kopi racikan di seputaran Ruko Dok II Jayapura mengatakan kopi Papua, khususnya Arabika sudah terkenal dikalangan masyarakat Perancis dan Amerika. “Kopi Papua sudah punya nama di luar negeri, bahkan dalam negeri sendiri banyak penikmat kopi yang mencari, hanya saja stok yang ada masih terbatas. Ini yang harus dilihat oleh pemerintah provinsi dan kabupaten setempat,” kata Fredrik. (Alexander Loen)

Sunday, 4 October 2015

Baliem Arabica: Kopi dengan Banyak Nama Tetapi Jarang Diadari Orang

Kopi Baliem Arabica disingkat Baliem Arabica ialah nama yang hanya melekat kepada Koperasi Serba Usaha Baliem Arabica yang menyebut Kopi yang umumnya disebut Kopi Wamena sebagai Baliem Arabica, dan selanjutnya memberikan nama kepada produk Kopi Baliem Arabica sebagai Baliem Blue Coffee.

Baliem Blue Coffee sebagai merek dagang dari Kopi Baliem Arabica yang diproduksi oleh KSU Baliem Arabica memang belum banyak dikenal. Kalau Anda mendegar dan membaca, kebanyakan memberi-nya nama bermacam-macam seperti berikut
  1. Kopi Baliem
  2. Kopi Baliem Papua
  3. Kopi Baliem Wamena
  4. Kopi Wamena
  5. Kopi Papua Wamena
  6. Kopi Wamena Papua
  7. Kopi Papua
  8. Kopi Baliem Arabica
  9. Kopi Arabica Wamena
Nama yang sering terdengar di kalangan masyarakat umum ialah Kopi Papua, tetapi di kalangan bisnis kopi di Indonesia ialah Kopi Papua Wamena atau Kopi Wamena.

Menurut Ketua KSU Baliem Arbaica, Selion Karoba, 
sebenarnya Kopi Wamena itu disebut Baliem Arabica. Jadi nama Kopi ialah Baliem Arabica, dan Kopi Baliem Arabica berasal dari Wamena, yaitu Baliem Arabica ialah Wamena Single Origin. Wamena Single Origin inilah yang kemudian kami beri nama Baliem Blue Coffee.

Pada saat ditanyakan kalau ada single origin yang lain dari tanah Papua  dan diproduksi oleh KSU Baliem Arabica pula, maka namanya apakah tetapi disebut Baliem Blue Coffee, maka ketua Koperasi mengatakan
tidak, semua single origin bila perlu diberi branding masing-masing, karena wilayahnya sangat luas, citarasa sangat berbeda dan kalau kita satukan, maka kami merugikan potensi Kopi Papua. Memang akan ada Kopi Papua Blend, tetapi untuk sementara Kopi Wamena inilah yang orang sebut Kopi Papua. Kopi Pegunungan Bintang juga sementara disebut Kopi Papua atau bahkan Kopi Wamena. Semuanya masih kabur. Masih perlu banyak kerja untuk membereskan semua ini.

Sebagai Ketua Asosiasi Kopi Spesialti Papua, Selian Karoba menyatakan selanjutnya bahwa
yang kita katakan sebagai Kopi Papua itu bukan kopi dari provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Indonesia saja tetapi juga Kopi Hagen, Kopi Goroka dan Kopi Arabica lainnya dari Papua New Guinea, karena semuanya ini ialah Kopi dari Tanah Papua, semuanya bernama Kopi Papua.
Semoga saja Kopi yang punya banyak nama ini akhirnya tidak membingungkan konsumennya, dan lebih lagi, tidak mengorbankan para konsumen karena dianggap kopi yang berbada karena nama-nama yang berbeda tadi.

Saturday, 5 September 2015

Tengkulak Kopi Papua Merajalela, Pake Mobil Plat Merah, Plat Kuning maupun Plat Hitam

Menurut pengamatan Jhon Kwano sebagai penanggungjawab penjualan Kopi Papua lewat PAPUAmart.com saat ini menunjukkan memang begitu banyak tengkulak Kopi Papua merajalela di mana-mana.

Sangking banyaknya sehingga saya, Jhon Kwano sulit menyebutkannya. Yang bisa saya katakan, dan barangkali cara ini yang paling sopan menurut norma budaya Timur, ialah menyebutkan kelompok secara samar-samar sehingga tidak menyinggung/ mengotori nama oknum atau organisasi atau lembaga.

Paling tidak ada tiga kelompok, yaitu kelompok plat merah, kelompok plat kuning dan kelompok plat hitam. Kelompok plat merah saat ini gencar berkunjung langsung ke kebun-kebun kopi, berkampanye, membawa sekop, parang, dan pastinya uang, dan juga membawa "janji" bahwa kalau mereka terpilih, maka nasib Kopi Papua akan JAUH lebih mujur daripada kondisi saat ini.

Kelompok plat kuning datang dengan menawarkan harga yang lebih tinggi kepada para petani kopi. Mereka bilang,

Harga kopi yang dipatok KSU Bailem Arabica jauh terlalu rendah dan merugikan para petani. Koperasi menipu petani sendiri. Seharusnya harga kopi lebih tinggi. Timbangan yang digunakan Koperasi juga salah, seharusnya memakai cara timbangan kami.
Mereka membeli Kopi Papua dalam jumlah besar dan menjanjikan kali berikutnya mereka akan datang beli kopi dalam jumlah yang lebih banyak, dengan harga yang lebih mahal.

Yang berplat hitam datang mengatasnamakan kedua-duanya, yaitu yang berplat merah dan yang berplat kuning. Mereka lebih bergaya lagi. Tanpa uang, tanpa nama, tanpa identitas yang jelas, tetapi jangan salah, mereka memberikan "janji-janji yang lebih hebat lagi". Kata mereka, kalau mereka jual kopi sama mereka, maka rumah-rumah para petani akan disulap, karena mereka suruhan Presiden Joko Widodo, dan sejenisnya.

KSU Baliem Arabica saat ini sedang bergumul dan berdoa, tetapi tidak berkecil hati, apa lagi putus asa. Kami yakin, kami berasal dari sini, kami ada di sini, dan kami akan di sini selama-lamanya. Dia yang berplat apapun memang berduit, memang berkuasa, memang berkedudukan, memang dan memang, tetapi "memang-nya" dia hanya sementara, hanya untuk batas waktu tertentu, hanya kalau terpilih kembali.

Oleh karena itu, kami mengajak para pemain dan tengkulak Kopi Papua, para perusak harga dan mutu Kopi Papua, biarlah kiranya Tuhan yang empunya Tanah dan Manusia Papua berkunjung ke dalam hati dan rumah Anda sekalian, entah Anda pengendara plat merah, plat kuning ataupun plat hitam, biarlah Tuhan berbicara dan membuat Anda sadar, bahwa KSU Baliem Arabica bukan pendatang, bukan tamu, bukan sementara. Amin!

Friday, 4 September 2015

Potensi Pengolahan dan Pengembangan Kopi Papua dalam Strategi Akses Pemasaran

Potensi Pengembangan kopi membahas potensi dan tantangan yang dihadapi di dalam pengembangan Komoditas kopi arabika organik di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Lembah Baliem merupakan daerah tempat tinggal Suku Dani dimana Masyarakat adat yang diperkenalkan ke dunia luar sebagai petani pejuang. Mereka hidup bertani, namun gemar berperang. Kopi Baliem ini adalah kopi papua jenis arabika.

Petani di wilayah utara Wamena umumnya menjual biji kopi mereka ke Koperasi Baliem Arabica yang saat ini membayar sebesar Rp. 25.000 per kilogram untuk biji kopi yang sudah dikupas dan dikeringkan.

Petani memilih menjual ke Koperasi karena tidak mampu menanggung biaya angkut biji kopi dari kampung ke Wamena, walaupun di Wamena terdapat pembeli yang bersedia membeli hingga Rp.40.000, per kilogram Biji kopi yang belum dikupas tetapiHarus kering.

Kopi yang memiliki ciri khasnya arabika, karakter rebusannya asam, agak berbeda dengan karakter rebusan kopi robusta yang lebih pahit. Tidak terlalu pahit karena memang arabika memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibanding robusta. Head of Cooperative KSU Baliem Arabica; Selion Karoba mengungkapkan, September 2012 mendatang, pihaknya akan mengekspor kopi ke Amerika 18 ton. Tahun ke tahun hasil produksi kopi di Pegunungan Tengah Papua terus meningkat, pertama ekspor 12 ton, kemudian 14 ton dan 16 ton, selanjutnya September 2012 ekspor ke Amerika 18 ton.

Pada tahun 2002 untuk luas lahan tanaman kopi di Kabupaten Jayawijaya tercatat 3.076 hektar, yang merupakan hampir setengah (42,7 persen) dari luas total 6.208 Ha areal perkebunan kopi Provinsi Papua. Perkebunan yang keseluruhannya milik rakyat ini tersebar di Kecamatan Tiom, Bokondini, dan Asologaima.

Produksi kopi Jayawijaya yang juga diekspor ke Singapura, Jepang, dan Australia ini, besarnya 316,30 ton atau setara dengan hampir setengah produksi kopi provinsi yang besarnya 740,3 ton. Selain ke Amerika, pihaknya juga akan mengirim kopi ke sejumlah tempat seperti Freeport dan Jakarta. Mengenai harga kopi, harga kopi ditentukan dalam Rapat Umum Anggota (RUA) KSU Baliem Arabica, dimana tahun ini harga pembelian kopi dari petani Rp 6.000 per liter. “Kita sudah beberapa kali naikkan harga pembelian kopi, 2010 lalu harga kopi gabah (kopi dengan kulit kering) Rp 5.000 per liter, tahun ini harganya Rp 6.000 per liter, dan 2013 mendatang harganya kita naikkan menjadi Rp 7.000 per liter. Kualitas kopi dari Lembah Baliem tidak perlu lagi diragukan. Dalam berbagai tes uji citarasa yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri, sudah terbukti “Baliem Blue Coffee”atau disingkat “Bebecoffee”memiliki citarasa yang tinggi. Pada kegiatan konferensi Asosiasi Kopi Spesial Amerika yang diikuti oleh pelaku-pelaku kopi Spesial dari seluruh dunia, kopi dari daerah ini diikutsertakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia karena Koperasi Baliem Arabica adalah salah satu anggota organisasi itu. Berdasarkan data kopi di Kabupaten Yahukimo, Jayawijaya dan Lani Jaya cukup besar, dengan jumlah petani kopi 2010 orang dan luas lahan 1.102 ha serta kemampuan produksi 193,25 ton pertahun.

Potensi produk kopi terbesar terdapat di kabupaten Jayawijaya, yaitu sebesar 138,75 ton pertahun, kemudian Lani Jaya. Pada tahun Rainforest Alliance melakukan audit terhadap Koperasi Baliem Arabika. Hal ini merupakan bagian dari program Aliansi Pembangunan Pertanian Papua (PADA) untuk pengembangan kopi di Lembah Baliem, Papua. Rainforest Alliance memiliki misi untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan menjamin mata pencaharian yang berkesinambungan dengan mengubah praktek-praktek penggunaan lahan, praktek bisnis dan perilaku konsumen. Diharapkan potensi pengolahan kopi dibeberapa daerah dapat ditingkatkan dalam meningkatkan perekonomian masyarapat petani kopi di Papua. (Sumber: data Litbang, Disbun Papua, data diolah hero13)

Sunday, 31 May 2015

Coffee Story Kompas TV "Kopi Owa & Kopi Tahlil"#2



Coffee Story perlu disebarluaskan di seluruh muka Bumi, dalam berbagai bahasa mengingat potensi Kopi Papua, secara khusus kopi di Pegunungan Tengah Tanah Papua begitu luarbiasa, tetapi selama ini selalu saja dimanipulasi oleh berbagai tangan kotor yang bertujuan mencari untung sendiri, mengabaikan  kepentingan pembangunan, masyarakat pemilik tanah ulat dan tanaman kopi, dan pemangku kepentingan setempat.



Cerita Kopi sedunia tidak begitu enak disimak, tetapi barangkali Cerita Kopi dari Tanah Papua bisa membawa kabar gembira buat kita semua. Kita butuh para "pencerita kopi" yang gigih dan berpihak kepada para pemilik kopi, bukan hanya kepada pemain kopi dan penikmat kopi.

Penelitian Kopi Organik oleh Aser Kocu di Wamena



Kopi Wamena sudah lama dikenal sebagai "Kopi Organik", tetapi adalah bijak bilamana kleim Kopi Organik dimaksud dibuktikan lewat penelitian secara ilmiah, mengingat penelitian dan penjelasan ilmiah ialah adat masyarakat modern yang patut kita pelajari untuk menjelaskan berbagai realitas dalam kehidupan kita, termasuk realitas Kopi Organik yang ada di Tanah Papua.

Penelitian Kopi Organik oleh Aser Kocu di Wamena



Kopi Wamena sudah lama dikenal sebagai "Kopi Organik", tetapi adalah bijak bilamana kleim Kopi Organik dimaksud dibuktikan lewat penelitian secara ilmiah, mengingat penelitian dan penjelasan ilmiah ialah adat masyarakat modern yang patut kita pelajari untuk menjelaskan berbagai realitas dalam kehidupan kita, termasuk realitas Kopi Organik yang ada di Tanah Papua.

The Wamena Experience!



Menyeduh Kopi Wamena sama dengan menyeduh kopi lainnya dari seluruh muka Bumi. Akan tetapi rasa Kopi Wamena selalu tidak sama dengan rasa kopi lain di seluruh dunia, karena masing-masing Kopi Single Origin memiliki citarasa terseendiri yang unik dan khas.



Semoga presentasi ini membantu kita meracik Kopi Wamena dengan tetap mempertahankan citarasanya sebagaimana adanya.

Kemewahan Kopi Wamena dengan metode French Press



Setiap Kopi memiliki keunikan dan / kekhasan rasa.



Kekhasan citarasa ditentukan oleh berbagai aspek. Salah satunya ialah alat yang digunakan, siapa yang menggunakan, dan bagaimana cara menggunakan alat dalam menyeduh sebuah kopi single Origin seperti Kopi Papua Wamena Single Origin yang selama ini dipromosikan dan diekspor oleh KSU Baliem Arabica.

Thursday, 21 May 2015

"Kenapa Harga Kopi Wamena Begitu Mahal Pak?"

Roasted Beans Kopi Papua
Judul cerita ini adalah pertanyaan yang sudah banyak kali, dan hampir semua orang yang kami tawarkan kopi Wamena katakan.Di awal-awalnya kami sulit menjawab pernyataan berupa keluhan seperti ini. Sering sekali ditulis dalam SMS atau email seperti ini, "Waduh, apa bisa dikurangi dikit Pak?", "Nggal terlalu mahal Pak?", "Apa bisa dikurangi Pak, soalnya saya juga mau jualan", dan sejenisnya. Nada-nada kalimat seperti ini dengan jelas memaksa kami sebagai penjual Kopi Wamena menurunkan harga.

Kami selalu menjawab, "Mohon maaf, sesuai keputusan Rapat Koperasi, kami jalankan perintah rapat, bukan keputusan pribadi, jadi tidak bisa merubah harga kopi". Untung saja harga kopi turut kami tetapkan dalam Rapat Anggota Koperasi.

Sudah berselang 3 tahun sekarang, dan pernyataan itu selalu saja datang. Jawaban kami saat ini kepada seluruh penikmat dan pembeli kopi di Indonesia sebagai berikut:

Barangsiapa punya harga diri atas tanah air dan bangsanya, dia pasti akan menghargai 'harga' Kopi Papua

Lewat pernyataan yang kami sampaikan pada "Signature" surat-surat yang dikeluarkan Marketing Manager KSU Baliem Arabica bermaksud menjelaskan bahwa Harga Kopi Papua bukan harus diterima karena biaya produksi begitu mahal saja, tetapi kita semua harus menghargai 'harga kopi Papua' sebagaimana adanya:
  1. Mengeluhkan harga kopi Papua sama saja dengan mengeluhkan nasib diri sendiri, di mana Wamena ada di dalam wilayah NKRI yang kondisinya serba mahal, yang menyebabkan Kopinya memang harus mahal. Maka untuk menerima fakta geografis ini secara mutlak, kita semua yang berdagang Kopi Kopi Wamena maupun yang menikmatinya seharusnya "menghargai"nya bukan mengeluhkannya.
  2. Kalau kita di Indonesia saja sudah muncul dengan keluhan apa yang kita maksudkan kepada konsumen di Amerika Serikat? Tidak tahukan wahai penikmat dan pedagang Kopi di Indonesia bahwa pedagang dan penikmat Kopi di Amerika Serikat dan di Eropa justru 'menghargai' harga Kopi Wamena dan mereka tidak pernah, sekali lagi tidak pernah sekalipun katakan, "Kopi Wamena Mahal!"?
  3. Kalua orang asing saja berani menghargai Kopi Wamena dengan harganya, apa bukti kita yang mengaku diri sebagai orang Indonesia, sebagai pemain kopi Indonesia, sebagia penikmat Kopi Indonesia? Apakah mengeluhkan harga kopi Wamena bukti nasionalisme kita? atau sebaliknya?
Semoga saja, dengan publikasi seperti ini dan dengan kesadaran kita semua, kita pada akhirnya harus tunduk kepada fakta mutlak di Indoensia bahwa memang ada harga kopi yang harus kami pertimbangkan, ada yang harus kami teruma, dan ada pula harga kopi yang harus kami hargai (appreciate).

Roasted Beans Kopi Indonesia

Sunday, 17 May 2015

Jhon Kwano: Banyak Orang Berharap Kopi Papua Murah, tetapi Faktanya Kami Tidak Sanggup Memurahkan Harga

Menanggapi pertanyana yang diajukan oleh salah satu konsumen kami yang menyatakan kopi Papua terlalu mahal baginya, maka saya, Jhon Kwano sebagai petugas marketing dari produk Kopi Papua dari KSU Baliem Arabica merasa berkewajiban menyampaikan informasi sekaligus sebagai penegasan bahwa harga Kopi Papua merupakan yang termahal di seluruh Indonesia, bahkan bisa jadi di seluruh dunia. "Alasan utama jelas karena biaya produksi begitu mahal," kata Kwano.

Menurut Kwano lagi,
"Kita bandingkan saja, Kopi Papua ini mulai dari kebun saja sudah harus diangkut dengan pesawat. Belum kita bicara tentang pengolahannya, pengeringannya dan pengiriman ke Jayapura. Dari Jayapura-pun kami harus membayar biaya pengangkutan ke dan dari Gudang Produksi di Kampung Harapan, Sentani, Jayapura."
Masih menurut Kwano bahwa sebenarnya KSU Baliem Arabica tidak bermental pengemis.
Kami tidak terlalu mengharapkan Pemerintah berbaik hati atau menghinabobohkan perusahaan kami, tetapi adalah kewajiban pemerintah. Sekali lagi, ini kewajiban pemerintah Indonesia, bukan hanya pemerintah provinsi Papua, untuk memperhatikan, mendorong dan menopang usaha-usaha kreatif dan usaha-usaha kecil di seluruh Indonesia. Jadi yang kami lakukan di sini adalah usaha kecil, karena kami berbentuk Koperasi.

Kalau saja pemerintah dari pusat sampai daerah memberikan fasilitas seperti subsidi biaya angkut, atau fasilitas lainya, pasti sekali harga kopi bisa turun. Tetapi itu hanya harapan, yang kami tahu akan sulit dipenuhi kalau kami bermental berharap pemerintah turun tangan.

Pasar di Indonesia harus sadar bahwa harga Kopi Papua sebegitu mahal dan kita sebagai pelaku usaha, konsumen kopi yang merasa diri mau memajukan negara Indoensia harusnya tidak perlu mengeluh. 

Pembeli kopi Papua dari Amerika Serikat dan Eropa saja tidak pernah kaget-kagetan lihat harga Kopi Papua. Mereka tahu persis kondisi geografis dna kondisi pembangunan di Tanah Papua sehingga mereka 'appreciative' terhadap harga yang kami pasang. Bedanya konsumen dan pemain kopi di Indonesia justru mengharapkan kopi Papua berharga sama dengan Kopi Jawa, padahal biaya produksinya sangat berberda. 
Selanjutnya Jhon Kwnao mengundang seluruh pengusaha, pedagang dan penikmat Kopi di Indonesia pada umumnya dan pemerhati Kopi Papua, terutama sekali orang Papua yang suka minum kopi untuk "appreciate the price as it is bearing in mind that the geographical and development conditions do contribute significantly to the cost".

Dengan semangat Revolusi Bisnis Kopi di Tanah Papua yang sedang digallakkan saat ini, Jhon Kwano mengundang semua pihak, terutama pemain kopi di Indonesia untuk menghargai harga kopi yang telah dipasang KSU Baliem Arabica.